Jun
18
2012

Portofolio Usaha

PORTOFOLIO USAHA : PT SIDO MUNCUL

Subyek: Tugas Pertama Kelompok
Mata Kuliah: Manajemen Strategi
Waktu Penyerahan: 16 Juni 2012
Dosen: Setiadi Djohar, DBA

============================================================================================

1. LATAR BELAKANG

 

Dari waktu ke waktu, lingkungan dimana perusahaan beroperasi berubah dengan cepat, baik dari faktor politik, sosial, ekonomi maupun tekhnologi. Perubahan lingkungan tersebut membuat pelaku industri untuk selalu mengevaluasi rencana bisnis dan menuntut perusahaan agar mampu merencanakan bisnisnya dengan baik sehingga dapat bertahan, tumbuh dan berkembang. Memasuki millenium ketiga, tantangan dan hambatan yang dihadapi dunia industri semakin besar. Persaingan dunia industri di Indonesia semakin ketat, sehingga setiap perusahaan diharuskan meningkatkan kemampuannya untuk bersaing dalam perekonomian global.

Kondisi ini menuntut setiap perusahaan untuk mengetahui posisinya dalam persaingan, sehingga perusahaan dapat merencanakan  berbagai strategi agar dapat eksis dan terus berkembang di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat dan laju pertumbuhan industry yang juga semakin meningkat. Salah satu bagian dari strategi perusahaan adalah dengan melakukan analisa portofolio. Analisis portofolio adalah suatu alat yg digunakan oleh manajemen untuk mengenali dan mengevaluasi posisi perusahaan di tengah-tengah persaingan sehingga dapat diketahui langkah-langka dan kebijakan apa yang seharusnya diambil.

Guna mendalami materi Portofolio usaha sebagaimana diuraikan pada latar belakang di atas, kelompok kami mengambil contoh kasus PT. Sido Muncul, sebuah perusahaan industri jamu tradisional yang berada pada skala industri besar. Ada tiga pendekatan yang biasa digunakan dalam analisa portofolio, Pertama Matriks Boston Consulting Group (BCG), kedua matriks McKinsey dan ketiga Ciba-Geigy. Namun dalam makalah ini kami lebih menekankan pada analisa Matriks BCG  yang diawali dengan analisa SWOT dan diteruskan dengan analisa VRIO.

Secara lebih detil, Makalah ini dapat dilihat pada file terlampir.

Paper telah di serahkan kepada pihak Akademik pada tanggal 16 Juni 2012.

Jun
18
2012

Perumusan dan Analisis

PERUMUSAN DAN ANALISIS MANAJEMEN STRATEGIK
Studi Kasus: Restaurant Cepat Saji McDonald’s

Subyek: Tugas Pertama Kelompok
Mata Kuliah: Manajemen Strategi
Waktu Penyerahan: 9 Juni 2012
Dosen: Setiadi Djohar, DBA

============================================================================================

1. LATAR BELAKANG

Perkembangan perekonomian saat ini sangat pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi di segala bidang terutama bidang perdagangan yang mulai menawarkan produk investasi seperti franchise, lisensi, dan lain-lain. Diantara sekian banyak produk investasi yang ditawarkan, franchise merupakan salah satu alternatif investasi yang dipilih karena proses pengoperasiannya yang mudah, dan sistem manajerial yang sudah jelas serta sesuai dengan standar operasi yang telah dilaksanakan di perusahaan secara umum.
Produk franchise yang ditawarakan antara lain dalam bidang kuliner, ritel, dan jasa. Dalam hal ini kami memngkhususkan diri pada produk franchise dalam bidang kuliner yaitu restoran cepat saji McDonald’s. McDonald’s merupakan salah satu franchise terbesar yang berkembang pesat di Indonesia maupun di dunia internasioanal. Sampai saat ini, McDonald’s masih menunjukkan eksistensinya dalam perkembangan perekonomian suatu negara.
Dari pertimbangan yang telah kami sebutkan di atas, maka kami menyusun makalah yang kami beri judul “PERUMUSAN DAN ANALISIS MANAJEMEN STRATEGIK PERUSAHAAN FRANCHISE, STUDI KASUS: RESTORAN CEPAT SAJI MCDONALD’S”.

Secara lebih detil, Makalah ini dapat dilihat pada file terlampir.

Paper telah di serahkan kepada pihak Akademik pada tanggal 9 Juni 2012.

Jun
18
2012

Analisis Faktor Internal

ANALISIS FAKTOR INTERNAL DAN
ANALISA PERUSAHAAN
Studi Kasus: PT EONIX OLECTRUM NOUSA

Subyek: Tugas Pertama Kelompok
Mata Kuliah: Manajemen Strategi
Waktu Penyerahan: 8 Juni 2012
Dosen: Setiadi Djohar, DBA

============================================================================================

1.  LATAR BELAKANG

Pada umumnya tujuan utama perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya, meningkatkan volume penjualan dan mempertahankan kelangsungan hidupnya.Untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan maka diperlukan perencanaan strategi bisnis, dengan menyelaraskannya pada misi perusahaan.

Strategi untuk suatu perusahaan adalah rencana jangka panjang. Strategi ini adalah: rencana yang disatukan, artinya mengikat semua bagian perusahaan menjadi satu menyeluruh, meliputi semua aspek penting perusahaan; dan terpadu, sehingga semua bagian rencana serasi satu sama lain dan bersesuaian.

Strategi menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungannya.Sehingga sebelum perusahaan dapat memulai perumusan strateginya, manajemen terlebih dahulu harus mengamati lingkungan eksternal untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang mungkin terjadi dan mengamati lingkungan internal untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan yang juga akan menentukan apakah perusahaan mampu mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada sambil menghindari ancaman-ancaman.

Setiap perusahaan berhadapan dengan sejumlah pesaing sekaligus ada andil pemerintah dalam penetapan regulasi dan aturan-aturan, pemasok/penyalur bahan, pemilik, serikat buruh, dan lain-lain.Perusahaan ini dapat berukuran besar dan menengah maupun perusahaan lebih kecil dan menggunakan strategi yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai sasarannya.

Dengan menghadapi fenomena di atas, sebuah perusahaan harus memiliki suatu strategi bisnis sehingga bisa lebih unggul dari para pesaingnya serta dapat terus beroperasi dan bersaing di masa mendatang.Dengan adanya perencanaan strategi bisnis yang cepat, tepat dan efektif, di harapkan perusahaan dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi dan dapat terus beroperasi, bersaing dan mendapatkan tujuannnya.

Berangkat dari latar belakang di atas, kelompok kami mencoba untuk melakukan  analisa terhadap PT EONIX Elektrum Nousa, sebuah perusahaan  perdagangan besar yang berberak di bidang kelistrikan, mulai dari mesin, suku cadang, kabel dan perlengkapannya. Analisa difokuskan pada faktor internal perusahaan yang merupakan kekuatan dan kelemahannya serta analisa terhadap lingkungan yang mempengaruhi eksistesninya.Analisa ini dimaksudkan untuk mendalami dan meningkatkan pemahaman kami atas teori-teori yang kami pelajari pada mata kuliah Manajemen Strategi dan bagaimana implementasinya di dunia nyata.

Secara lebih detil, Makalah ini dapat dilihat pada file terlampir.
FINAL ANALISIS FAKTOR INTERNAL (Kelompok 2)

Paper telah di serahkan kepada pihak Akademik pada tanggal 8 Juni 2012.

Jun
7
2012

Egoisme Kelompok

Analisa Kasus Pemutusan Hubungan Kerja
PT Dirgantara Indonesia
Ditinjau dari Teori Egoisme Kelompok

Subyek: Tugas Pertama Kelompok 2
Mata Kuliah: Hukum dan Etika Bisnis
Waktu Penyerahan: 25 Mei 2012
Dosen: Prof. Dr. Ir Aida Vitayala

==============================================================================================

1.    PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang

Pada dasarnya suatu perusahaan dibentuk dalam rangka untuk menciptakan nilai tambah dan mendapatkan keuntungan. Sebagai entitas bisnis (business entity) banyak orang menganggap bahwa keberadaan perusahaan hanya sekedar sebagai mesin dan sarana untuk memaksimalkan keuntungannya dan melipatgandakan modal yang telah ditanamkan oleh pemiliknya. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, sebuah bisnis terikat dengan etika. Etika dalam bisnis mengikat semua orang yang terlibat di dalamnya, baik secara personal maupun lembaga. Dengan kata lain etika mengikat pemilik, direktur, manajer, pimpinan unit kerja dan kelembagaan perusahaan. Semua anggota organisasi/ perusahaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya harus menjabarkan dan melaksanakan etika bisnis secara konsekuen dan penuh tanggung jawab.

Perusahaan yang hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan semata tanpa mengindahkan etika dan norma bisnis, akan membuat manajemen perusahaan cenderung berpandangan bahwa suatu nilai dianggap baik apabila menguntungkan perusahaan dan sebaliknya dianggap buruk apabila merugikan perusahaan. Modal, mesin dan karyawan hanya dianggap sebagai faktor produksi dan semua aktivitasnya diarahkan untuk mencapai tujuan utama, yaitu memaksimalkan keuntungan. Dalam teori etika bisnis, pandangan seperti ini disebut sebagai egoisme. Karena perusahaan sebagai lembaga yang dikelola oleh manajeman yang terdiri beberapa orang, maka egoisme seperti ini disebut sebagai egoisme kelompok. Ketika perusahaan sudah tidak mendatangkan keuntungan lagi, manajemen perusahaan akan melakukan tindakan yang menurutnya rasional dan baik, misalnya melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya secara sepihak.

Di perusahaan, egoisme kelompok tidak hanya terjadi pada manajemen saja. Dari sisi karyawanpun juga dapat timbul egoisme kelompok, karena pada dasarnya, kepentingan setiap orang yang bekerja di sebuah perusahaan adalah sama, yaitu mendapatkan manfaat dari segi ekonomi. Ketika perusahaan melakukan PHK secara sepihak, namun disisi lain karyawan tersebut masih membutuhkan pekerjaan sebagai sumber nafkah atau mata pencahariannya, maka secara manusiawi ia akan merasa bahwa kepentingannya terganggu. Dalam kondisi seperti ini, karyawan bersangkutan cenderung akan memandang sesuatu dari sudut pandang kepentingannya. Dan tindakan perusahaan yang berlawanan dengan kepentingannya dianggap sebagai tindakan yang tidak benar. Pandangan seperti ini dapat disebut sebagai egosime etis, yaitu pandangan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest). Apabila PHK dilakukan secara massal, egoisme etis akan meningkat derajatnya menjadi egoisme kelompok, karena semua karyawan yang terkena PHK akan cenderung memiliki pandangan yang sama dan merasa kepentingan mereka terganggu. Egoisme kelompok manajemen dan egoisme kelompok karyawan yang berbenturan akan menimbulkan konflik.

PT Dirgantara Indonesia (PT DI), pada tahun 2002 melakuan PHK terhadap ribuan karyawannya. Tindakan perusahaan yang notabene dimiliki oleh pemerintah tersebut menimbulkan konflik yang berlarut-larut dan penyelesaiannya memakan waktu sangat lama. Serikat Pekerja PT DI menilai langkah tersebut melanggar Undang-undang Ketenagakerjaan. Keputusan soal pemutusan hubungan kerja sebagian besar karyawan PT DI, membuat kecewa ribuan karyawan PT DI yang diwakili Ketua Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan (SP FKK) PT DI, Bapak Arif Minaldi. Arif mengingatkan, keputusan sidang kabinet terbatas tersebut makin membuat para karyawan untuk melakukan perlawanan terhadap Direksi PT DI. Arif juga menilai, jika PHK benar-benar dilakukan, berarti direksi telah melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan. Arif menambahkan, cara-cara yang dilakukan terhadap para karyawan PT DI yang akan di PHK adalah cara-cara biadab dan tidak mengerti kondisi karyawan PT DI.

Kasus yang terjadi pada PT DI menarik perhatian kelompok kami untuk menganalisa dari sisi etika bisnis, khususnya tentang Egoisme Kelompok. Analisa ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kami terhadap mata kuliah Hukum dan Etika Bisnis.

Tugas HBE Egoisme Kelompok ==> Secara lebih detil, Makalah ini dapat dilihat pada file terlampir.
Egoisme Kelompok Presentation – Done ==> Secara lebih detail, Presentasi ini dapat dilihat pada file terlampir.

Paper telah di presentasikan pada tanggal 25 Mei 2012.

Jun
7
2012

Analisa Faktor Eksternal dan Analisa Industri

ANALISA FAKTOR EKSTERNAL DAN ANALISA INDUSTRI
Case Study: PERUSAHAAN MINUMAN TERBESAR DUNIA “COCA COLA”

Subyek: Tugas Pertama Kelompok
Mata Kuliah: Manajemen Strategi
Waktu Penyerahan: 2 Juni 2012
Dosen: Setiadi Djohar, DBA

============================================================================================

1. LATAR BELAKANG

                Di dalam perkembangan organisasi sebuah perusahaan pastinya tidak lepas dari pengaruh internal dan eksternal dari perusahaan. Secara umum kebijakan manajemen dalam menentukan arah perusahaan juga akan sangat ditentukan oleh lingkungan perusahaan. Kondisi lingkungan perusahaan ini akan secara tidak langsung membantu manajemen untuk mengindentifikasi langkah apa yang akan ditempuh untuk menjalankan strategi perusahaan. Secara garis besar sebuah perusahaan akan dipengaruhi oleh lingkungan perusahaan dimana lingkungan tersebut dapat dibagi kedalam dua bagian besar, yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal perusahaan.

                Coca-cola merupakan perusahaan minuman terbesar di dunia, menjual empat dari lima top minuman non alkohol ke seluruh dunia, di antaranya: Coca-cola, Diet coke, Sprite, dan Fanta. Saat ini Coca-Cola Company mempekerjakan 71.000 orang di lebih dari 200 negara dan memproduksi sekitar 400 merek yang terdiri lebih dari 2.600 produk minuman. Produk-produk coca-cola didistribusikan melalui supermarket, swalayan, restoran, dan toko makanan hingga warung-warung kecil. Ibarat sebuah pepatah, “makin tinggi pohon maka makin kencang angin bertiup”, maka perusahaan raksasa seperti coca-cola company harus selalu waspada dan memperhatikan faktor-faktor eksternal di sekelilingnya.

Secara lebih detil, Makalah ini dapat dilihat pada file terlampir.
Analisis External & Analisa Industri oleh Kelompok 2 E40

Paper telah di serahkan kepada pihak Akademik pada tanggal 31 Mei 2012.

May
7
2012

Konsep Pemasaran Strategic Berbasis Share Holder Value

Yuniastuti Wahyuningsih (P056111003.40E) – Graduate Student of  MB-IPB Class of 40E

“Konsep Pemasaran Strategic Berbasis Share Holder Value”
dan
“Persaiangan Potongan Harga Pada Bisnis Retail:
Kmart vs. Wall-Mart”

Final Examination – Take Home Exam for Marketing Management  
Lecture by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc.

Graduate Program of Management and Business, Master of  Management.
Bogor Agricultural University

====================================================================================  

  1. 1.       Konsep Pemasaran Kmart

Pada tahun 1899, Sebastian Spering Kresge membuka pertama tokonya di tengah kota Detroit. Pada tahun 1912, Kresge mempunyai 85 toko dengan hasil penjualan tiap tahunnya lebih dari 10 juta dollar. Toko Kresge nampak bagi para pembelinya sebagai toko dengan harga murah, dengan tampilan terbuka dan lokasi yang nyaman dan mudah ditemukan.Kresge juga mendirikan pusat perbelanjaan pertama – plaza Country Club di kota Kansas, Missouri di tahun 1929. Sementara itu, group supermarket memperkenalkan ke masyarakat untuk konsep belanja sendiri.  Perusahaan The Kresge meluncurkan program iklan Koran pada awal tahun 1930.  Promosi melalui radio dilakukan 20 tahun kemudian, dan televisi pada tahun 1968.  Hingga saat ini iklan cetak tetap menjadi dominasi dalam program iklam Kmart, dengan 72 juta eksemplar setiap minggunya terbagi ke 1,500 koran seluruh amerika.

  1. 2.       Konsep Pemasaran Wal-Mart

Wal-Mart didirikan pada tahun 1962, dengan pembukaan toko diskon Wal-Mart pertama di Rogers, Perusahaan ini didirikan sebagai Wal-Mart Stores, Inc, pada 31 Oktober 1969 oleh Sam Walton. Saham Perusahaan mulai diperdagangkan di pasar OTC pada tahun 1970 dan terdaftar pada New York Stock Exchange dua tahun kemudian.Perusahaan tumbuh menjadi 276 toko di 11 negara pada akhir dekade.Pada tahun 1983, perusahaan membuka pertama Sam’s Club keanggotaan gudang dan pada tahun 1988 membuka supercenter pertama – sekarang perusahaan format dominan – yang menampilkan toko yang lengkap di samping barang dagangan umum.Wal-Mart menjadi sebuah perusahaan internasional pada tahun 1991 ketika pertama kali membuka Sam’s Club di dekat Mexico City.

Secara lebih detil, Makalah ini dapat dilihat pada file terlampir.
Take Home Test MP – Yuni E40 (P056111003.40E)

Paper telah di submit via email ke Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc. pada tanggal 6 Mei 2012.

May
3
2012

Peluang dan Tantangan Pengelolaan Keuangan Mikro

 

KOSPIN JASA
“Peluang dan Tantangan Pengelolaan Ekonomi Keuangan Mikro
Menuju Indonesia Sejahtera”

Tugas Akhir – Take Home Exam untuk Mata Kuliah Manajemen Financial
Dosen : Dr. Ir. Noer Azzam Achsani, MS
Disusun Oleh : YUNIASTUTI W (P056111003.40E)

——————————————————————————————————————————————————

1.                   PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa pada triwulan II/2010 kredit mikro, kecil dan menengah (MKM) tumbuh sebesar 23,55% atau lebih tinggi dibandingkan dengan kredit perbankan yang hanya mencapai total sebesar 17,4%. Ini menunjukkan bahwa sektor ini memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat dari sektor perbankan itu sendiri.Padahal sektor UMKM hanya didukung oleh lembaga-lembaga keuangan kecil.Bagaimana kalau perbankan nasional ikut berpartisipasi, mendorong dan mendukung UMKM? Tentu sektor ini akan menjadi tumpuan baru dalam memajukan perekonomi nasional. Dan UMKM sendiri telah membuktikan peran penting dalam menopang perkeonomian negara ketika industri besar mengalami resesi ekonomi akibat krisis ekonomi dunia.

 Gambar 1. 1. Skema Kebijakan Pembangunan di Sektor Keuangan

Selain itu pelaku kredit mikro ini mencoba memahami persoalan – persoalan yang ada dalam pengelolaan kredit mikro dan sekaligus menggali potensi UMKM untuk menjadi bagian penting dari pertumbuhan perekonomian nasional.Tantangan yang dihadapi memang banyak tetapi peran UKM dalam pembangunan eknomi nasional juga sangat tinggi, sudah saatnya struktur ekonomi nasional seharusnya ditopang oleh UMKM. Selain karena faktor penyebarannya yang merata di seluruh Indonesia juga akserasinya yang tinggi dan kontribusinya pada penampungan tenaga kerja.

Secara lebih detil, Makalah ini dapat dilihat pada file terlampir.
Kospin Jasa – Peluang dan Tantangan Pengelolaan Keuangan Mikro

Paper telah di submit ke pak Azam dan Akademik pada tanggal 2 Mei 2012.

Apr
27
2012

CEO Exchange: Anne M. Mulcahy and Neville Isdell

Yuniastuti Wahyuningsih (P056111003.40E) – Graduate Student of  MB-IPB Class of 40E.

Marketing class notes, Friday, date April 20, 2012
Lecture by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc.

Graduate Program of Management and Business, Master of  Management.
Bogor Agricultural University

Pada perkuliahan Manajemen Pemasaran di kelas E40 tanggal 20 April 2012 ditayangkan program CEO Exchange dengan tamu pembicara CEO dan Chairman dari beberapa perusahaan yang memiliki inovasi dan kredebilitas perusahaan yang bisa dibilang sangat membanggakan. Dengan kenaikan omset dan laba perusahaan yang signifikan semenjak dipimpin oleh mereka.

Adapun pada tayangan Episode Anne M. Mulcahy (CEO dan Chairman Xerox Corporation) and Neville Isdell (CEO dan Chairman The Coca-Cola Co.) dengan moderator Jeff Greenfield seorang membawa berita kawakan yang merupakan lulusan Sekolah Hukum dari Yale University maka dialog antara 2 CEO tersebut menjadi lebih hidup dan banyak digali perinsip-perinsip dan harapan dari ibu Anne dan bapak Neville.

Adapun untuk 2 hal yang paling menarik yang dapat saya ambil dari tayangan tersebut adalah:

1. Pernyataan Anne M. Mulcahy, yaitu: Menerima semua kenyataan bahwa dalam mempimpin suatu perusahaan multinational sekelas Xerox awalnya merupakan keputusan yang sulit, terutama apabila pada saat anda diposisi beliau. Akan tetapi buatlah semua itu menjadi lebih personal. Dan pastikan bahwa karyawan yang anda pimpin memahami bahwa Anda telah mencoba untuk melakukan hal yang benar untuk mereka.

2. Pernyataan Neville Isdell, yaitu: Para pekerja sosial tidak akan memberikan solusi atas masalah yang dialami oleh orang lain. Mereka membuat orang tersebut mencari solusi atas masalah mereka sendiri. Dan dengan pelatihan yang telah beliau jalani sebagai pekerja sosial dengan dedikasi tinggi serta berkualitas adalah fundamental penting untuk mengembangkan keyakinan terhadap manajemen yang Coca-cola Co. yang beliau pimpin. Semua hal tersebut meningkatkan keterampilan beliau dalam mendengarkan orang lain lebih banyak.

Adapun untuk strategi pemasaran yang dilakukan kedua CEO tersebut yang sangat menginspirasi saya antara lain:

Anne M. Mulcahy: Yang menjadi salah satu prioritas utamanya adalah mendorong perusahaan untuk lebih agresif mengembangkan inovasi dalam pembuatan mesin fotokopi warna dan memasarkannya dengan segmentasi bisnis percetakan serta dengan memberikan difrensisasi dengan mengintegrasikan peralatan Xerox untuk dapat “plug-in” dengan Internet sehingga memberikan kelebihan produk yang merupakan peratalan pendukung perkantoran dengan yang memfasilitasi kebutuhan secara one stop office. Sehingga pada saat itu Xerox memiliki keahlian besar dalam penjualan dan teknologi, dan Mulcahy bekerja untuk memperbaiki kelemahan dalam bidang pemasaran produk-produknya.

Selain itu Xerox juga memperluas portofolio sistem dan layanan. Dengan mempertahankan investasi dalam inovasi, Xerox telah merombak total lini produk, memenangkan pangsa di segmen utama dari pasar mesin foto kopi berwarna. Selain itu, perusahaan meluncurkan Xerox Global Services, menawarkan manajemen konten, imaging dan layanan konsultasi. Kombinasi teknologi inovatif dan layanan nilai tambah telah menyampaikan hasil yang kuat.

Dalam internal perusahaan beliau juga mengubah gaya kepemimpinan Xerox terdahulu dengan mengadopsi “pendekatan yang lebih selektif” yang sengaja dirancang untuk membangun hubungan pribadi dengan atasan dan bawahan menjadi lebih sehat dengan pengembangan dan pelatihan manajemen yang diberikan kepada siapa saja yang memenuhi kualifikasi dan sesui dengan nilai-nilai perusahaan.

Neville Isdell: Merek Coca Cola memang tidak ada tandingannya di kelas minuman berkarbonasi. Namun, sebagai merek yang umurnya sudah lebih dari satu abad, Coca Cola membutuhkan penyegaran baru. Strategi pemasaran Coca Cola masih berfokus kepada kategori minuman dan belum merambah ke sektor lain. Dengan inovasi dan diferensiasi produk untuk mengatasi pesaing dalam memenuhi kebutuhan pasar dengan meluncurkan produk Diet Cola, Cerry Cola, Coca-Cola Zero dan merek Powerade yang baru muncul pada 1990-an. Coca-Cola berinovasi dengan menciptakan produk-produk baru yang menjadikan produk minuman cepat saji Coca-Cola mempunyai rasa dan pilihan yang beragam.

Coca-Cola sempat mendapat kecaman karena ingin mengubah rasanya seperti Pepsi. Namun, Coca-Cola berhasil membalikkan fakta tersebut menjadi opportunity. “Ini pengalaman menarik buat Coca-Cola sebagai sebuah brand global untuk minuman berkarbonasi. Melalui riset dan pengembangan (Research & Development), Coca-Cola terus berinovasi untuk menciptakan produk, kemasan, strategi pemasaran, serta perlengkapan penjualan baru yang lebih berkualitas, kreatif, serta mempunyai ciri khas tersendiri.

Masa krisis itu pun berhasil diatasi dengan strategi promosi yang sistematik dan lebih menonjolkan pendekatan lokal. Akhirnya, Coca-Cola berhasil bangkit. Sehingga, menjadi sebuah brand soft drink yang paling diminati dan selalu menjadi trend setter. Guna menembus pasar lokal, Coca Cola sudah melakukan penetrasi ekspansi ke produk-produk lokal menggunakan strategi pemasaran yang diluncurkan Coca Cola pada 2000, “Think Global, Act Local“. Strategi ini dibuktikan oleh Neville telah mengangkat brand Coca Cola.

Inovasi adalah salah satu kunci keberhasilan yang menjadikan Coca-Cola semakin besar, dikenal luas, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) nya. Hal tersebut tak lain dikarenakan Neville Isdell sendiri memiliki jiwa sosial yang tinggi dan memiliki karisma dalam mendengarkan lebih banyak.

Setelah melihat video tersebut, saya pribadi menjadi lebih terinspirasi kepada kedua sosok sukses yang menghantar peningkatan kinerja perusahaan terkemuka sekelas Coca-Cola Company dan Xerox dengan Inovasi dan dedikasi yang tinggi terhadap perusahaan. Terutama sosok ibu Anne M. Mulcany yang merupakan sosok wanita yang menurut pendapat saya sangat memberikan gambaran bahwa kelembutan, perhatian dan ketulusan wanita dalam memimpin suatu perusahaan merupakan seni tersendiri dalam penerapan keberhasilan dari women touch ditengah-tengah maraknya issue emansipasi wanita dalam penerapannya secara nyata.

Salam Sukses,
Yuni

Apr
14
2012

Pertanyaan Pemasaran Strategik

Disscussion notes, date March 10, 2012
Lecture by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc.

Based on Book written by Ujang Sumarwan, Agus Djunaidi, Aviliani, H.C.Royke Singgih, Jusup Agus Sayono, Rico R Budidarmo, Sofyan Rambe. 2009.. Pemasaran Strategik: Strategi untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Value for Shareholders). Jakarta,  Inti Prima Promosindo.

Graduate Program of Management and Business, Master of  Management.
Bogor Agricultural University.

Diskusi dilaksanakan pada Ruang Kelas Sungkai MB IPB, pukul 08.00 sampai 12.00 tanggal 10 Maret 2012, terdiri dari dua sesi diskusi kelompok 1 dan 2 dan membahas 6 Bab dari Buku Hitam Pemasaran Strategik: Strategi untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Value for Shareholders).

Pertanyaan diskusi yang dijawab pada posting ini adalah pertanyaan untuk kelompok 2, terkait dengan Bab 4 tentang Promosi, Bab 5 tentang Kinerja Pemasaran dan Bab 6 tentang Penilaian Posisi Strategis.

Kelompok 2 beranggotakan rekan-rekan sebagai berikut :
1. ARIE WIBOWO IRAWAN (P056110763.40E)
2. BASUKI RAHMANTO
(P056110803.40E)
3. MOCHAMAD MULJANA
(P056110883.40E)
4. MUHAMMAD IQBAL (P056110893.40E)
5. PRASETIYO
(P056110923.40E)
6. YUNIASTUTI W
(P056111003.40E)

Adapun pertanyaan tersebut akan kami sampaikan dengan detail sebagai berikut :

1. Pertanyaan Sdr. Andi Yoshendy (Bab 4 : Promosi)

Strugling mengenai perimbangan biaya untuk Trade Promo dan Consumer Promo. Apakah ada referensi yang sesuai untuk menentukan berapa porsi untuk Trade Promo dan berapa untuk Consumer Promo?

Jawab:

a)      Target/Sasaran Promosi

Trade Promo adalah promosi yang sasaran/targetnya adalah trade, halam hal ini bisa distributor atau toko/outlet. Sedangkan Consumer promo adalah promosi yang target/sasarannya adalah end user.

b)     Porsi Budget Untuk Trade Promo dan Consumer Promo

Tidak ada aturan baku untuk menentukan berapa budget yang akan dialokasikan untuk Trade Promo dan Consumer Promo. Hal ini sangat situasional, tergantung :

  • Kebijakan perusahaan dalam promosi

Trade promo sangat bagus dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan penjualan dalam waktu yang singkat dengan memberikan insentif (discount, free good, lock order melalui pemberian rebate, dll) kepada rantai distribusi (distributor, wholesaler, grosir atau retail/outlet). Promo ini secara langsung akan meningkatkan buffer stock yg ada di rantai distribusi atau pasar, sehingga dapat meminimalisasi kemungkinan out of stock di pasar

Consumer promo lebih ditujukan untuk memberikan insentif langsung kepada end user. Tujuannya dari consumer promo itu sendiri adalah meningkatkan penjualan melalui :

-          Mendapatkan konsumen baru agar mau melakukan trial pembelian

-          Mempertahankan konsumen yang sudah ada untuk melakukan repeat order/repurchase atau menambah volume pembelian.

 

  • Jenis, karakteristik produk, dan life cycle produk

Trade promo sangat cocok untuk produk fast moving dengan life cycle yg cukup panjang. Sangat tidak direkomendasikan untuk melakukan trade promo untuk produk yang mempunyai life cycle pendek seperti susu, karena tingginya stock di distributor akan menimbulkan kerugian (bad stock, kedaluwarsa, dan retur barang) apabila barang tidak laku.

 

2. Pertanyaan Sdri. Anggin Indira Syamsi (Bab 6 : Pemasaran Strategik)

    Mohon dijelaskan secara lebih detail tentang Balance scorecard.

Jawab:

Perusahaan-perusahaan sukses berpendapat bahwa kinerja dan rencana perusahaan tidak dapat dibangun dan diukur dengan perspektif tunggal (financial centris), tetapi secara terintegrasi mengevaluasi semua perspektif (financial, pelanggan, internal perusahaan, serta pembelajaran dan pertumbuhan).

  • Perspektif Financial mengkaji masalah total pertumbuhan penjualan, margin operasi, nilai tambah ekonomis, return on capital employed, dll
  • Persepektif Pelanggan mengukur kepuasan pelanggan dengan atribut seperti brand image dan kesadaran, market share, tingkat kepuasan, ingatan pelanggan terhadap merek, apa yang didapat pelanggan, dll.
  • Perspektif Internal ditujukan untuk mereview seberapa efisien proses bisnis yang dilakukan perusahaan. Pengukuran fokus pada proses internal seperti HRD, bagian produksi, penjualan, distribusi, support, dll.
  • Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan ditujukan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk melakukan inovasi agar bisa terus mengembangkan produk, pembelian, proses manufaktur, teknologi, pemasaran dan penjualan, dll sehingga mampu meningkatkan competitive advantage bagi perusahaan.

 

3. Pertanyaan Sdr. Ashar Jarot Suranta (Bab 5 : Kinerja Pemasaran)

Inovasi dan Pembelajaran ada kaitan langsung untuk pembelajaran dalam balance scorecard.

Dan Inovasi teknologi dalam balance scorecard.

Jawab:

Seperti dijelaskan diatas, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ditujukan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk melakukan inovasi agar bisa lebih efisien sehingga mampu meningkatkan competitive advantage bagi perusahaan. Pada akhirnya  perusahaan mampu bertahan dalam persaingan dalam jangka panjang.

Teknologi merupakan faktor kunci dalam perspektif ini, sehingga kesiapan dan kesanggupan perusahaan untuk menerima dan mengadopsi teknologi baru di semua bagian merupakan hal yang penting.  Inovasi dapat dilakukan dalam pengembang produk, sistem pembelian, stock control, proses manufaktur, finance, pemasaran dan penjualan, sistem informasi, dll.

 

 4. Pertanyaan Sdr. Paraden Arianto Aritonang (Bab 4 : Promosi)

Mengenai Harga Obral, kapan dan faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan dalam melakukan obral?

Jawab:

Harga obral bisa dilakukan pada setiap tahapan siklus produk (tahap introduction, grow, mature, decline) karena tujuan harga obral adalah untuk menginduksi konsumen (trade/end consumer) agar mau membeli produk. Namun hal yang harus perlu diperhatikan adalah kapan promo dilakukan dan berapa besar diskon yang harus diberikan agar promo efektif dan masih bisa memberikan keutungan bagi perusahaan.
Sangat penting untuk mengetahui bagaimana elastisitas permintaan produk karena kenaikan/penurunan harga akan berpengaruh terhadap profit margin. Lebih jauh daripada itu, penentuan harga obral juga harus dapat mengantisipasi timbulnya price war antar produsen, sehingga apabila kurang cermat dalam menentukan harga obral akan merugikan produsen itu sendiri.

 

 5. Pertanyaan Sdr. Widhitomo (Keseluruhan Bab 4, 5 dan 6)

Jika perusahaan dihadapkan pada kondisi penjualan yang sangat tidak memuaskan maka salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pemasarannya. Dalam kondisi buruk tersebut, apa yang seharusnya dilakukan perusahaan? Apakah melakukan Continous Improvement atau Reenginering? Berikan alasan terkait kelebihan maupun kekurangan dari strategi tersebut bagi perusahaan?

Jawab:

Untuk menyelesaikan suatu masalah, kita harus tahu terlebih dahulu apa akar permasalahannya (dapat menggunakan fish bone tool analysis). Penjualan suatu produk/jasa yang tidak memenuhi ekspektasi bisa diinterpretasikan sangat luas. Tidak menutup kemungkinan akar masalah ada dibagian lain :

a)      Bagian Operasi dan Produksi

Pada banyak kasus ditemukan penjualan yang kurang baik karena disebabkan kualitas barang yang kurang baik, atau mungkinketidaksiapan inventori di pabrik yang menyebabkan distributor/konsumen memperoleh barang

b)     Bagian Keuangan

Sering sekali kita temui penjualan yang turun sebagai akibat dari kebijakan credit term yang diterapkan oleh perusahaan sangat ketat. Sebagai contoh, bagian keuangan pada sebuah perusahaan hanya mengizinkan credit term paling lambat atu bulan. Namun kenyataan yang dihadapi sales/marketing dilapangan ialah customer yang mensyaratakan credit term minimal 3 bulan.

Permasalahan seperti ini akan berimplikasi secara langsung terhadap volume penjualan

c)      Bagian Pemasaran/Marketing

Apabila memang permasalahan tersebut berasal dari bagian pemasaran, maka perlu dilakukan evaluasi kinerja pemasaran untuk menentukan solusi terbaik. Salah satu cara paling umum dan mudah adalah survey kepuasan pelanggan secara berkala dan analisis bauran pemasaran (Marketing Mix):

  • Product (Produk): Perlu dievaluasi mengenai product competitiveness, apakah sudah sesuai dengan standar kualitas dan spesifikasi yang diharapkan oleh pelanggan dan bagaimana jika dibandingkan dengan produk pesaing
  • Price (harga): Perlu dibandingkan harga produk sejenis dengan produk pesaing (apple to apple)
  • Place (Saluran Distribusi): Mengevaluasi sistem distribusi (termasuk distribution coverage), sistem ordering, stock, service level lay out/display barang di toko

-          Sistem distribusi apa yang paling cocok, apakah direct selling melalui single distributor or multi distributor

-          Bagaimana sistem ordering, buffer stock dan service level agar tidak terjadi loss of sales karena out of stock

-          Seberapa besar distribution coverage/distribution point produk kita, dengan indikator berapa banyak toko yang menjual produk kita. Sehingga kita dapat menentukan seberapa mudah pelanggan mendapatkan produk kita (product availability)

-          Bagaimana visibility produk kita, apakah sudah didisplay dengan layak dan masalah tata letak posisi barang.

  • Promotion (Promosi): Evaluasi efektivitas dan efisiensi promosi melalui survey independence untuk mengetahui sejauh mana masyarakat mengenal produk kita yang ditandai dengan brand awareness, brand image, consumer image to our product, dll

Mengenai continuous improvement, menurut pendapat kelompok kami perlu dilakukan bukan hanya pada saat kondisi penjualan menurun atau kinerja pemasaran tidak memuaskan, namun continuous improvement harus dilakukan secara berkelanjutan dan mencakup semua bidang/bagian dari perusahaan agar tetap kompetitif dalam persaingan. Pada banyak kasus sering kita temui perbaikan yang kecil (minor) namun dilakukan secara terus-menerus dan komprehensif berhasil menciptakan perbaikan yang signifikan.

Terkait reengineering, belum dapat kita lakukan sebelum kita mengetahui masalah sebenarnya karena reengineering membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Reengineering itu sendiri memiliki arti perbaikan yang sifatnya menyeluruh dan bukan parsial yang hanya terkait kinerja penjualan. Dengan kata lain, reengineering merupakan pilihan yang diambil dengan terlebih dahulu melakukan evaluasi yang komprehensif sehingga hasil/output yang kita hasilkan dari reengineering lebih besar dari biaya yang kita keluarkan.

 

6. Pertanyaan Sdr. Firdaus Alim Damopolii

Berita tentang mobil ESEMKA sebagai karya anak bangsa sangat mengejutkan dan merupakan kebanggan bagi negara kita. Hal tersebut mengingatkan kita dengan pesawat terbang buatan IPTN. Namun image di masyarakat menyatakan bahwa produk buatan dalam negeri kualitasnya tidak lebih baik dibandingkan dengan buatan luar negeri. Hal ini diperkuat lagi dengan tidak lulusnya uji emisi mobil ESEMKA. Sebagaimana kita ketahui bahwa pemerintah Indonesia telah meratifikasi protokol Kyoto dan memiliki program penurunan beban emisi sebesar 26%. Berdasarkan hal tersebut, menurut Saudara apabila menjadi manajer pemasaran ESEMKA bagaimana strategi yang harus dilakukan oleh perusahaan mobil ESEMKA agar produk mobil dalam negeri ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia dan tanpa menyampingkan sisi lingkungan yaitu program pemerintah dalam penurunan beban emisi sebesar 26%.

Jawab:

a)      Kebijakan Makro

Untuk tahap awal, sangat diperlukan lobby ke pemerintah untuk kepedulian dan keberpihakan pemerintah dalam rangka memberikan proteksi terhadap industri nasional.  Disini pemerintah memiliki peranan yang sangat penting, standar emisi gas buang mobil yang kita miliki sekarang sangat ketat karena mengacu kepada Euro 3 yang hanya bisa dicapai oleh mobil-mobil buatan luar negeri (mobil buatan Jepang dan Eropa). Pemerintah sebaiknya mengeluarkan kebijakan yang meringankan produk mobil dalam negeri, dengan kata lain ada dispensasi terkait standar emisinya sehingga mobil nasional dapat mencapainya.

b)     Modal dan Investor

Kedua, mobil nasional ini (ESEMKA) membutuhkan investor karena industri mobil selain padat karya juga padat modal. Salah satu solusinya adalah keberpihakan pemerintah untuk mendapatkan pendanaan dari bank nasional.

c)      Komunikasi Massa

  • Komunikasi terintegrasi yang melibatkan semua sektor (pemerintah dan swasta) dapat menggugah nasionalisme agar masyarakat mau menggunakan produk dalam negeri. Disini pentingnya public relation (PR) untuk memberikan pencitraan dan mendapat simpati publik. Peran PR ini dapat dimainkan oleh media massa nasional (media cetak dan elektronik) untuk membangun opini public tentang kebutuhan Indonesia akan mobil nasional. Salah satu tema yang provokatif yang potensial untuk diusung adalah “Sudah saatnya kita jadi Tuan di negeri sendiri dalam dunia otomotif”.

d)     Pemasaran

  • Sistem penjualan terpadu baik B2G, B2B dan B2C

-          B2G, dengan melakukan pendekatan dan lobby ke pemerintah daerah dan pusat agar semua mobil dinas menggunakan mobil dalam negeri.

-          B2B, kemudian ada peraturan pemerintah yang mensyaratkan bahwa mobil operational perusahaan-perusahaan swasta harus mobil ESEMKA (minimal 1 mobil/perusahaan)

-          B2C, setelah ESEMKA memutuskan untuk masuk dalam sebuah industri, merupakan suatu keharusan bagi ESEMKA untuk menjalankan personal selling melalui tenaga wiraniaga professional dan menjadikan mereka sebagai pegawai BUMN.

  • Distribusi, menunjuk autorize dealer di semua kabupaten, sehingga produk bisa segera terdistribusi secara national.
  • After sales service, adanya autorize dealer harus diikuti dengan pengadaan bengkel/service terpadu yang didukung tenaga handal dan suku cadang yang memadai, serta berani memberikan garansi untuk jangka waktu tertentu
  • Insentif, memberikan incentif kepada supplier-supplier suku cadang agar kontinuitas supply bisa terjaga
  • Leasing (finance company), mengadakan kerjasama dengan perusahaan leasing agar mau memberikan pinjaman buat pelanggan
  • Continuous improvement dan inovasi baik dari segi teknologi, design, dan kepedulian lingkunga (uji emisi).

 

Daftar Pustaka

Kottler P. 1999. Manajemen Pemasaran Jilid 1 (Edisi 6). Jakarta: PT. Prehallindo.

Ujang Sumarwan, Agus Djunaidi, Aviliani, H.C.Royke Singgih, Jusup Agus Sayono, Rico R Budidarmo, Sofyan Rambe. 2009.. Pemasaran Strategik: Strategi untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Value for Shareholders). Jakarta, Inti Prima Promosindo.

Apr
9
2012

Promosi, Kinerja Pemasaran dan Penilaian Posisi Strategis

Yuniastuti Wahyuningsih (P056111003.40E) – Graduate Student of  MB-IPB Class of 40E.

Marketing class notes, date March 10, 2012
Lecture by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc.

Based on Book written by Ujang Sumarwan, Agus Djunaidi, Aviliani, H.C.Royke Singgih, Jusup Agus Sayono, Rico R Budidarmo, Sofyan Rambe. 2009.. Pemasaran Strategik: Strategi untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Value for Shareholders). Jakarta,  Inti Prima Promosindo.

Graduate Program of Management and Business, Master of  Management.
Bogor Agricultural University.

Dengan sistem pengajaran “Cara Belajar Mahasiswa Aktif” yang unique, mata kuliah Manajemen Pemasaran menuntun kami untuk lebih memahami konsep Manajemen Strategik, baik itu secara teoritis dan praktisi pada saat yang bersamaan. Dan dibawah bimbingan dosen pengajar yang berpangalaman serta rekan-rekan satu kelas dengan beragam latar belakang pendidikan serta memiliki aktifitas keseharian yang berbeda sehingga membentuk satu kesatuan yang solid maka terciptalah suasana belajar dan mengajar yang kondusif sehingga kami dapat mengikuti perkuliahan tersebut dengan antusiasme yang tinggi.

Pada tanggal 10 Maret 2012, Alhamdulillah Kelompok 2 diberikan kehormatan dengan didaulat sebagai Kelompok yang pertama kali memberikan presentasi didepan kelas E40 dengan memaparkan Summary dari Buku Hitam (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Value for Shareholders) karangan dari Bapak Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc. untuk Bab 4 tentang Promosi, Bab 5 tentang Kinerja Pemasaran dan Bab 6 tentang Penilaian Posisi Strategis.

 

Pada kesempatan tersebut, presentasi yang dibawakan oleh kelompok kami terdiri dari:
1. Slide Bab 4 – Promosi (Blog version)
2. Slide Bab 5 – Kinerja Pemasaran (Blog version)
3. Slide Bab 6 – Penilaian Posisi Strategis (Blog version)

 

Kelompok kami merupakan kelompok yang solid dalam bekerjasama, smart dalam mengerjakan tugas-tugas serta success dalam menyelesaikan semuanya sesuai dengan tanggungjawab yang telah ditugaskan kepada kami semua. Kelompok 2 beranggotakan rekan-rekan dengan detail sebagai berikut :
1. ARIE WIBOWO IRAWAN (P056110763.40E)
2. BASUKI RAHMANTO
(P056110803.40E)
3. MOCHAMAD MULJANA
(P056110883.40E)
4. MUHAMMAD IQBAL (P056110893.40E)
5. PRASETIYO
(P056110923.40E)
6. YUNIASTUTI W
(P056111003.40E)

Walau dengan kesempatan bertemu bersama yang minim akan tetapi kami berhasil melakukan sesi presentasi tersebut dengan menjunjung tinggi semangat “solid – smart – success”.

Because We are all the best…!!!

Bagi rekan-rekan yang berminat untuk men-download File Presentasi dari buku Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth in Creating Value for Shareholders, Bab 4 tentang Promosi, Bab 5 tentang Kinerja Pemasaran dan Bab 6 tentang Penilaian Posisi Strategis dalam bentuk Full Version dari Kelompok 2 dapat menghubungi kami dengan memberikan Comment dan mencantumkan alamat email yang dapat kami hubungi.

Salam Hangat,
Yuniastuti W